Jumat, 12 November 2010
MENGHARUMKAN NAMA DIBALIK BENCANA
Bencana, datang tak diundang dan pergi tak diantar. Masih saja menjadi sajian hangat di televisi, bencana yang sedang melanda negeri ini. Gunung Merapi masih belum mau berdamai dengan warga Yogyakarta, Wasior luluh lantak akibat banjir bandang, Mentawai masih menyisakan derita yang mencekam. Itu semua membuat miris hati bila menyaksikan. Sejurus dengan kondisi ini, terlihat aksi tanggap darurat dan penyaluran bantuan bagi korban kacau balau, hingga akhirnya presiden sendiri turun tangan bahkan rela menginap bertempat tinggal diantara para korban.
Ingatkah para blogger sekalian saat badai Katrina menghantam New Orleans beberapa tahun silam ? Segenap jajaran pemerintah AS yang bertanggungjawab menangani bencana juga sama dengan pemerintah Indonesia, mengalami kepanikan dan gagal dalam mengambil tindakan penanggulangan yang responsif. Namun persis pada momen itu, sejumlah perusahaan besar Amerika bergerak cepat dan serentak memberikan respon. Perusahaan Fedex yang ahli dalam logistik langsung bergerak dan dalam hitungan jam mampu mendistribusikan bantuan bagi ratusan ribu korban Katrina. Sementara perusahaan retail raksasa Walmart langsung menginstruksikan jaringan gerainya disekitar kejadian bencana untuk memasok ribuan item bahan makanan secara gratis bagi para korban. Banyak pengamat yang tertegun dengan kecepatan kedua perusahaan itu dalam mengelola logistik dan supply chain bagi daerah bencana. Kisah heroisme kedua perusahaan tersebut pada tragedi Katrina merupakan contoh terbaik tentang bagaimana menjalankan disaster management.
Balik pada kondisi Indonesia saat ini, telah banyak pula perusahaan yang beramai-ramai membuka dompet bencana untuk menyalurkan bantuan. Bagus juga inisiatif semacam ini, but that’s not enough.
Dalam konteks inilah, "BISNIS APOTEK" ingin memunculkan gagasan untuk mengkombinasikan kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) dengan inisiatif Disaster Management. CSR, bagi pebisnis apotek tentu ini menjadi tema penting bagi keberlanjutan jalannya bisnis. Nah...disini ada dua inisiatif penting yang mungkin layak ditimbang kala kita mau mensinergikan kegiatan CSR VS disaster management.
1. Masukkan program disaster management yang terpadu sebagai bagian dari program CSR.
Mungkin belum ada pebisnis apotek yang mengkombinasikan kedua unsur itu, ataupun jika ada masih sedikit jumlahnya. Sebagai panduannya, perusahaan United Tractrors (produsen traktor dan buldozer) mempunyai tim disaster management yang menawan untuk ditiru. Ketika suatu desa di Sleman tersapu abu vulkanik, mereka dengan cepat menyiapkan satu tim buldozer lengkap dengan sopirnya yang trampil untuk bergerak menuju lokasi. Ada satu contoh lagi, Pertamina mempunyai tim disaster management yang solid sebagai bagian dari CSR. Disaat ribuan pengungsi di Cangkringan kekurangan pasokan air, segera ratusan truk tim disaster management Pertamina datang memasok ribuan liter air bersih – lengkap dengan sistem manajemen distribusinya. Tidakkah langkah-langkah seperti ini jauh lebih keren dibanding sekadar membuka dompet bencana ? Apa yang bisa dilakukan oleh pelaku bisnis apotek untuk hal ini ? Tentu dengan membentuk satu kesatuan tim terpadu dengan tenaga kesehatan lain dengan memberikan pelayanan kesehatan bagi korban bencana. Ini mungkin hanyalah sebuah contoh yang sederhana : fokus pada satu layanan yakni "pemeriksaan mata", tata cara penggunaan obat mata yang benar, serta pencegahan symtom kronis pada mata. Hanya fokus pada satu layanan ini saja tentu akan membuat nama bisnis apotek menjadi lebih fresh, dan lebih awareness. Ingat, Fedex hanya fokus pada distribusi logistik yang sejalur dengan bisnisnya saat tragedi badai Katrina.
2. Memberikan bantuan human capital (brain capacity) dan keahlian manajerial.
Pelaku bisnis apotek tidak hanya cukup memberikan donasi uang atau dompet bantuan. Sebagai bagian dari CSR, ada yang lebih penting dari itu, yakni : memberikan bantuan human capital (brain capacity) dan keahlian manajerial. Banyak pelaku bisnis apotek yang mempunyai tenaga handal dalam bidang terapi obat, counselling, supply chain dll. Lalu mengapa mereka tidak mengirimkan tenaga - tenaga handal terbaiknya terjun ke lokasi, menyiapkan disaster management yang terkoordinasi rapi demi menolong para korban bencana ? Dan persis langkah semacam itulah yang dulu dilakukan oleh Fedex dan Walmart ketika badai Katrina menyerbu, mereka langsung mengirimkan para manajer terbaiknya dalam bidang logistik ke lokasi bencana; dan membebaskan mereka semua dari rutinitas tugas kerja. Puluhan manajer lainnya juga diberikan cuti gratis dan langsung diminta menjadi sukarelawan untuk total bekerja membantu korban bencana. Ditopang oleh keahlian manajerial dan sistem logistik yang profesional, para manajer ini dengan sigap mampu mengelola bencana dengan sangat rapi dan teratur.
Demikianlah dua inisiatif kunci yang bisa dilakukan untuk mensinergikan kegiatan CSR dengan Disaster Management. Kalau saja inisiatif penting ini dilakukan, mungkin reputasi bisnis apotek akan menjadi kian harum. Namun ada yang lebih penting lagi : karyawan menjadi sangat bangga berada di sebuah bisnis yang peduli dengan tugas-tugas kemanusiaan yang mulia nan luhur.
Dulu, selepas menunaikan tugasnya yang heroik menyelamatkan korban Katrina, puluhan karyawan Fedex saling berangkulan dan meneteskan air mata. "We are proud to be members of Fedex !", begitu pekik mereka dengan penuh keharuan. Tidakkah itu merupakan cara semacam itu sumber motivasi yang amat kuat untuk membangun SDM yang tangguh dan berhati mulia dalam bisnis apotek anda ?
How Much Stock ?
Sore tadi sempet chat via Facebook dengan rekan yang mengelola bisnis apotek di Banjarmasin, kesana kemari asyik ngobrolin masalah Out Of Stock atau Ora Ono Stok :) alias OOS. Rekan ini adalah pengelola sebuah apotek chained berlabel biru. Dari obrolan tersebut, koq akhirnya terpikir kalau masalah inventory management ini, sepertinya memang tema yang menarik untuk disajikan buat para blogger pelanggan setia gerai BISNIS APOTEK. Semoga sajian ini memberikan nutrisi bagi blogger sekalian...Rekan saya di Banjarmasin, semoga ini bisa menjawab gundah gulana hatimu, hehehe...(See tomorrow at Banjarmasin, friend !).
Pada tahun 1998, Christoper pernah bilang gini : " all mistake in a forecasting end up as an inventory problem, wether too much or too little ? ". Memang benar, yang namanya forecasting (proyeksi) rumusnya = TAK PASTI !. Memproyeksikan masa depan memang susah untuk ditebak kepastiannya. Karena forecasting ini juga tidak ada kepastiannya, maka yang perlu dilakukan adalah mengurangi ketergantungan pada forecasting itu sendiri dan bergeser pada posisi demand-driven, daripada forecast-driven. Maksud dari kalimat tersebut bukan berarti forecast tidak ada artinya sama sekali, namun perlu digeser paradigmanya, bahwa forecast diperlukan pada hal - hal yang umum saja, pembuatan forecast harus berlandaskan pada demand, dan forecast dirancang dengan menyesuaikan perkembangan & perubahan pasar. Ingat, bahwa tujuan melakukan forecast ini adalah untuk menyeimbangkan antara biaya dan ketersediaan barang (cost VS availability), agar selama bisnis apotek buka pasien tidak dikecewakan dengan OOS (Ora Ono Stok, hehe). Jika demikian, maka bagaimanakah cara agar demand-driven selaras dengan forecast-driven ? Ada beberapa langkah berikut yang layak untuk diperhatikan :
1. Sales Hystoritical Datas
Ini merupakan ruh untuk menggambarkan tren penjualan di bisnis apotek, sehingga untuk forecast di masa mendatang lebih mudah. Sering terjadi salah kaprah, bahwa semakin banyak data semakin baik dan yang penting kan hasil akhir ! Jika hal itu terjadi, yang ada malah justru sebaliknya, semakin banyak data semakin pusing dan hasil akhir yang baik belum tentu dari proses yang baik. Fokuskan pada sales hystorytical datas saja, yang minimal meliputi : kondisi umum, kondisi adanya trade promotion / perlakuan khusus, dan seasional dealing.
2. Lead time
Jangan sampai salah dalam memahami lead time, bahwa definisi lead time adalah rentang waktu yang dibutuhkan dalam pengadaan barang / obat pada bisnis apotek, mulai dari penulisan SP (Surat Pesanan) hingga barang / obat yang dipesan telah diterima di apotek. Jadi, perjalanan dari semenjak : SP ditulis - credit limit & over due cecking (cek batas kredit & keterlambatan bayar) - receipt (entry dalam sistem) - facturing (proses fakturisasi) - preparing (penyiapan) - loading (muat) - delivery (pengiriman) - dan berakhir pada penerimaan barang merupakan makna lead time yang sesungguhnya. Kesimpulannya, lead time TIDAK SAMA DENGAN waktu pengiriman, dan tidak dihitung mulai barang / obat di antar ke apotek.
3. Day Of Inventory
Maksud days of inventory adalah berapa lama stock barang / obat harus disimpan. Dasar perhitungannya adalah perbandingan kondisi stok barang atau obat dengan rata - rata penjualan periodik. Seringkali day of inventory diukur berdasar nilai penjualan saja, ini adalah jalan yang salah.
4. Safety Stock
Safety stock dapat diartikan sebagai stok minimal yang harus tersedia di apotek. Stok ini sebagai jaminan selama barang sedang dikirim oleh helper logistic PBF (Pedagang Besar Farmasi) ke apotek, maka proses penjualan masih dapat berlangsung. Terkadang masih sering terjadi kesalahan bahwa safety stock hanya untuk barang / obat fast moving saja.
5. Re Order Point
Artinya adalah titik kondisi barang / stok obat dimana apotek sudah meminta alokasi pengiriman barang / obat kembali sebelum stok-nya kosong.
6. Stock level
Stok level merupakan titik ketersediaan stok yang harus ada di apotek. Ini sebenarnya mirip dengan Day Of Inventory, namun lebih terperinci item - itemnya. Tidak mungkin bahwa setiap barang / obat akan memiliki stok level yang sama.
7. Delivery
Sebagai puncaknya, pengiriman barang / obat yang perlu diperhatikan karena memiliki peranan sangat penting. Maka semakin tinggi akurasi pengiriman barang, akan rendah pula resiko kesalahan sediaan barang / obat.
Setelah membaca ini, silahkan di review ulang inventory management yang ada pada bisnis apotek yang sedang dijalankan. Selanjutnya : "Hi.....How Much Stock ? ".
Rabu, 10 November 2010
High Risk, High Return !
Wuah...beberapa hari ini terasa sibuk. Bukan dalam rangka menyambut Presiden Amerika Serikat asal Menteng, Jakarta, Om Bama (Om Barack Obama) menemani makan The Satay, The Nasi Goreng, and The Back So (bakso maksudnya, hehehe..), tapi bikin mapping buat sales force. Akhir tahun gitu loh...So, warung http://bisnisapotek.blogspot.com/ belum sempat bikin menu istimewa lagi. Nah..sekarang menu yang ditawarkan adalah "High Risk, High Return". Ini adalah ungkapan yang pas untuk bisnis apotek. Lah koq ? Simak aja sajiannya, lengkap tersaji dengan manis untuk para blogger sekalian...Sajian ini sekaligus memenuhi request seorang rekan nan jauh di seberang pulau, untukmu "Bob" si ramah di kota empek - empek, Palembang...
Benar...bisnis apotek bukanlah bisnis instan, yang artinya bakal menuai return yang cepat layaknya bisnis retail. Bisnis apotek merupakan bisnis unik, karena menggabungkan pengetahuan khusus, ilmu obat / farmasi dengan bisnis. Artinya, belum tentu orang yang mengetahui pengetahuan bisnis akan sukses membuat apotek, dan belum tentu juga orang yang mengerti obat, sepenuhnya akan sukses mengelola apotek. Diperlukan fix combiantion diantara keduanya. Lantas bagaimana cara memulai bisnis yang high risk ini ?
Langkah - langkah berikut bisa dijadikan referensi untuk memulai bisnis apotek :
1. Human, as worker knowledge.
Faktor yang paling utama adalah ini, sumber daya manusia yang berpengetahuan. Yah..tidak sekadar hanya asal rekrut, namun harus benar - benar penyuka, ahli untuk menangani obat dan bisnis. Bukan yang hanya siap dipakai sebagai legalitas belaka, namun yang harus siap mencurahkan segenap pengetahuannya untuk mengembangkan bisnis apotek. Carilah yang benar - benar siap mandiri, bukan yang hanya siap untuk terima gaji. Tentu akan ada investasi pada faktor ini, namun jika memang well prospective, why not gitu loh...?. Tentu prinsip yang dipakai adalah : "Pay for performance, not only pay for person".
2. Working Capital
Kalau bicara soal modal, banyak sumber yang bisa ditangkap oleh calon pebisnis apotek. Sebut saja : mertua (halah..!), personal, rekanan, kelompok, bank, maupun dari keluarga. Akar masalah sebenarnya bukan bersumber pada modalnya, namun kemandirian untuk memulai menjadi pharmapreneurship-lah yang kelihatannya masih prematur. Jika tingkat percaya diri dalam mengelola bisnis apotek rendah, secara otomatis akan berpengaruh pula terhadap tingkat kepercayaan orang lain dalam menginvestasikan uangnya dalam bisnis apotek tersebut. Bukankah prinsip bisnis adalah memindahkan uang dari kantong konsumen ke kantong bisnis yang dijalankan ? Silahkan ditakar kadar kepercayaan diri untuk memulai proses pemindahan uang tersebut. Untuk hal ini, telah diciptakan banyak alat penakarnya, semisal : BEP, ROI, EVA, TOR, ROA, dll.
3. Geographyc
Letak dalam hal ini tentu diartikan kemudahan untuk diakses oleh customer / pasien. Ini bisa saja berupa letak, home care, layanan calling, counselling, tempat parkir, dll. Business support juga perlu dipikirkan, maksudnya adalah komponen yang akan mendukung bisnis apotek, diantaranya adalah jarak antar apotek dengan supplier, potensi dokter, layanan rumah sakit, puskesmas, bidan, fitness centre, klinik, apotek rekanan, dsb. Selain itu, tingkat kompetisi juga perlu dijadikan renungan tersendiri. Hal ini terkait dengan besaran market share yang akan direngkuh.
4. Demographyc
Pengertian demografis ini menyangkut masyarakat / penduduk yang bermukim di daerah seputar bisnis apotek tersebut. Bisa juga dimaknai mobilitas orang - orang yang lalu-lalang di seputar apotek. Perlu dibuat mapping, semisal : usia, gender, etnis, tingkat pendapatan, tingkat kepadatan penduduk, dan tingkat kepadatan lalu lintas. Hasil ketepatan demographic business mapping ini akan menentukan Segmented, Targetting, Pricing (STP) yang layak untuk customer / pasien.
5. Psychographic
Hal - hal yang termasuk dalam komponen ini meliputi kemampuan dalam menangani personality (karakter) customer / pasien, perilaku yang akan diciptakan dalam pelayanan bisnis apotek, gaya hidup, social tendencies. Jadi ingat Sam Walton, (itu sobat saya loh..hehe..) dia bilang begini : "There'is only one boss : the customer. And he or she can fire everybody in the company, from chairman down on, simply by spending his money somewhere else". Betul...hanya ada satu atasan yang hakiki, yakni cutomer. Dia akan memecat siapapun diperusahaan, hanya dengan membelanjakan uangnya di tempat lain.
6. Market
"If something can't be measure, so something can't be evaluated". Tepat sekali ungkapan tersebut, jika sesuatu tidak bisa diukur, maka hal tersebut juga tidak akan bisa dievaluasi. Pun tentang potensi market yang menjadi target bisnis apotek yang dijalankan. Apa saja yang perlu diukur ? Beberapa hal berikut layak untuk dikaji, yakni : tren, sosial (urban, rural, metro), hobi, need & requierements.
7. Government Role
Peraturan perundangan yang berlaku perlu dikaji secara seksama. Hal ini mengingat bahwa bisnis apotek berbeda dengan bisnis non obat. Tata cara dan perijinan serta aturan legal yang berlaku untuk menjalankan bisnis ini perlu diketahui dan dicermati. Hal ini penting, mengingat bisnis apotek bukan bisnis yang secara sembarangan hanya bersifat transaksional belaka. Kesalahan yang terjadi akan mengandung konsekuensi hukum.
Potensi bisnis apotek ini sangat menjanjikan, karena jika dilihat secara seksama tren penggunaan obat akan senantiasa meningkat. Hal ini tentu didukung oleh kesadaran masyarakat yang semakin peduli dengan kesehatan. Bukan hanya pada pangsa pasar obat - obat resep belaka, namun juga terjadi peningkatan pada tren pasar obat bebas, karena masyarakat juga telah sadar bahwa lebih baik menjaga daripada mengobati.
Namun demikian, beberapa hal juga perlu diwaspadai, mengingat pertumbuhan bisnis apotek (bila dilihat Above The Line-nya) ternyata tidak sebanding dengan pertumbuhan market share-nya.
Namun tentu hal ini tidak perlu dirisaukan, bukankah bisnis yang high risk akan senantiasa high return ?
Rabu, 03 November 2010
GREETING, TRIK AMPUH MEMBUKA KOMUNIKASI PELANGGAN !
"Selamat sore tuan, ada yang bisa saya bantu ?" Inilah sepenggal kalimat yang telah lazim terucap saat membuka percakapan dengan customer. Sebagian besar karyawan pada bisnis apotek-pun sering memulai aksi penjualannya dengan kalimat diatas. Setujukah dengan hal itu ?
Maksud kalimat diatas sebenarnya adalah greeting (salam penyambutan). Pada saat kontak awal dengan pelanggan, sebenarnya yang perlu dilakukan adalah menyambutnya, BUKAN menanyakan kebutuhannya. Yah..menyambutnya, inilah greeting yang sesungguhnya. Kenalkan diri terlebih dahulu, jangan terburu - buru menanyakan kebutuhannya. Disaat melakukan greeting yang baik, ini layaknya kita memperkenalkan diri bahwa kita-lah yang bertugas melayani customer tersebut. Rasakan bedanya kedua kalimat di bawah ini :
1. "Selamat pagi nyonya, saya Roviq selaku Head Manager di "Apotek Enggan Rugi". Saya senantiasa siap melayani nyonya !"
2. "Selamat pagi Pak, mau cari obat apa ?"
Poin ke-2 memperlihatkan adanya sedikit intimidasi secara psikologis, bahwa customer datang ke apotek untuk membeli. Sedangkan poin ke-1, lebih mengutamakan pada caring, sikap untuk melayani.
Ada beberapa pra-syarat agar greeting yang diciptakan benar - benar ampuh membius customer untuk mau diajak berkomunikasi, simaklah uraian berikut ini :
a. Usahakan greeting yang diciptakan tidak bisa dijawab dengan jawaban "YA" atau "TIDAK". Jika hal ini dilakukan, kecenderungan orang Indonesia akan menjawab "TIDAK" (malah kadang - kadang suka Ateng, sok teu...! hehehe). Buatlah kalimat greeting yang memerlukan jawaban berupa penjelasan.
b. Tunjukkan sikap positif terhadap pelanggan. Dengan sedikit senyuman, anggukan, bahkan gerakan tangan tentu akan menambah manis greeting yang diciptakan.
c. Tunjukkan sikap nyaman dan tidak mengintimidasi. Hal ini bisa dibangun dengan menyamakan ritme tipe bahasan yang dibicarakan. Misal : memulainya dari kesamaan hobby.
d. Setelah greeting berhasil, maka segera masuk pada penggalian problem (probing). Tanyakan masalah apa yang dihadapi pelanggan. Dan sekali lagi, tugas utama dari proses ini adalah untuk melayani agar customer mendapatkan solusi bukan mengintimidasi dengan terburu - buru menanyakan kebutuhan.
Telah banyak terjadi pada tenaga Sales Promotion, bahwa pelanggan terburu - buru menolak untuk berkomunikasi karena Sales Promotion tersebut melakukan intimidasi dengan serangkaian pertanyaan tentang "kebutuhan" sambil menonjolkan produk - produknya. Hal ini juga akan sama, bila di bisnis apotek tidak mampu menerapkan greeting secara mengagumkan. Greeting, hal sepele yang terkadang bisa bikin berabe !
Maksud kalimat diatas sebenarnya adalah greeting (salam penyambutan). Pada saat kontak awal dengan pelanggan, sebenarnya yang perlu dilakukan adalah menyambutnya, BUKAN menanyakan kebutuhannya. Yah..menyambutnya, inilah greeting yang sesungguhnya. Kenalkan diri terlebih dahulu, jangan terburu - buru menanyakan kebutuhannya. Disaat melakukan greeting yang baik, ini layaknya kita memperkenalkan diri bahwa kita-lah yang bertugas melayani customer tersebut. Rasakan bedanya kedua kalimat di bawah ini :
1. "Selamat pagi nyonya, saya Roviq selaku Head Manager di "Apotek Enggan Rugi". Saya senantiasa siap melayani nyonya !"
2. "Selamat pagi Pak, mau cari obat apa ?"
Poin ke-2 memperlihatkan adanya sedikit intimidasi secara psikologis, bahwa customer datang ke apotek untuk membeli. Sedangkan poin ke-1, lebih mengutamakan pada caring, sikap untuk melayani.
Ada beberapa pra-syarat agar greeting yang diciptakan benar - benar ampuh membius customer untuk mau diajak berkomunikasi, simaklah uraian berikut ini :
a. Usahakan greeting yang diciptakan tidak bisa dijawab dengan jawaban "YA" atau "TIDAK". Jika hal ini dilakukan, kecenderungan orang Indonesia akan menjawab "TIDAK" (malah kadang - kadang suka Ateng, sok teu...! hehehe). Buatlah kalimat greeting yang memerlukan jawaban berupa penjelasan.
b. Tunjukkan sikap positif terhadap pelanggan. Dengan sedikit senyuman, anggukan, bahkan gerakan tangan tentu akan menambah manis greeting yang diciptakan.
c. Tunjukkan sikap nyaman dan tidak mengintimidasi. Hal ini bisa dibangun dengan menyamakan ritme tipe bahasan yang dibicarakan. Misal : memulainya dari kesamaan hobby.
d. Setelah greeting berhasil, maka segera masuk pada penggalian problem (probing). Tanyakan masalah apa yang dihadapi pelanggan. Dan sekali lagi, tugas utama dari proses ini adalah untuk melayani agar customer mendapatkan solusi bukan mengintimidasi dengan terburu - buru menanyakan kebutuhan.
Telah banyak terjadi pada tenaga Sales Promotion, bahwa pelanggan terburu - buru menolak untuk berkomunikasi karena Sales Promotion tersebut melakukan intimidasi dengan serangkaian pertanyaan tentang "kebutuhan" sambil menonjolkan produk - produknya. Hal ini juga akan sama, bila di bisnis apotek tidak mampu menerapkan greeting secara mengagumkan. Greeting, hal sepele yang terkadang bisa bikin berabe !
Selasa, 02 November 2010
BERANI GAJI TINGGI BUAT YANG BERPRESTASI
Ada seorang pebisnis apotek yang melakukan riset kecil - kecilan. Ia menyuruh setiap stafnya untuk mengambil cuti selama 1 minggu setiap 3 bulan sekali, secara bergantian. Lantas terselip pertanyaan, mengapa hal itu dia lakukan ? Ia menjawab dengan santai : " Saya hanya ingin tahu, pegawai mana saja ketika mereka tidak ada, bisnis apotek masih bisa lancar ?" (aya - aya wae...! trik jitu buat mecat karyawan kali ya...? hahaha). Cerita itu hanyalah anekdot semata, namun tersisip makna di dalamnya. Yah...akan terlihat karyawan mana yang produktif dan mana yang "memble".
Lantas bagaimana cara meracik gaji agar terlihat manis ? Sebenarnya, kompensasi gaji dapat dibentuk melalui 2 elemen berikut :
1. Finansial (transaksional)
2. Non Finansial (relasional)
I. Kompensasi gaji finansial terbagi menjadi 2 bagian, yaitu :
a. Kompensasi yang didasarkan atas kinerja, misal : Gaji Pokok, Bonus.
b. Kompensasi yang tidak didasarkan atas kinerja, misal : Hak cuti karyawan.
II. Kompensasi gaji non finansial, terdiri atas 4 bagian, yaitu :
a. Pengakuan dan status, misal : strata sarjana akan mendapatkan gaji yang berbeda dengan strata diploma.
b. Keamanan kekaryawanan, misal : karyawan kontrak dinilai kurang aman dibanding karyawan tetap
c. Tantangan pekerjaan, misal : bekerja di bisnis apotek baru memiliki nilai yang lebih menantang
d. Kesempatan belajar, misal : adanya kesempatan training eksternal bagi yang berprestasi.
Nah...bagi pebisnis apotek, sebenarnya dalam membentuk struktur gaji bisa memainkan 2 eleman inti diatas. Racikan kompensasi gaji bisa berupa : gaji pokok standar, namun bonus besar dengan tantangan pekerjaan yang tidak mudah; gaji pokok besar, tiada bonus namun ada kesempatan belajar berupa training eksternal; gaji pokok besar, bonus besar, tantangan pekerjaan tidak mudah, dan keamanan kekaryawanan perlu perjuangan untuk menuju status karyawan tetap. Untuk menentukan formula mana yang terbaik, hal itu sebenarnya tergantung dari tujuan bisnis apotek yang dibangun.
Komponen kompensasi gaji diatas (entah gaya apapun yang dipilih), tujuannya hanya satu : produktivitas karyawan. Percuma dong...bayar karyawan mahal - mahal (walau gelar sederet kaya lokomotif !) kalau ternyata tidak produktif, alias "memble". Sebaiknya, bagi yang berprestasi layak mendapat kompensasi yang tinggi. Kenapa ? Karena karyawan yang berprestasi telah jelas - jelas memperlihatkan karya nyata dalam memajukan bisnis apotek. Hal ini patut dijadikan investasi, perlu dipertahankan jangan sampai dibajak oleh kompetitor. Salah satu alat untuk mempertahankan karyawan yang seperti ini adalah memberikan kompensasi berlebih dibanding karyawan lainnya. Bukankah ia adalah aset dalam bisnis apotek yang akan menjaga eksistensi bisnis tersebut agar tetap tumbuh ? Ingat, bahwa yang diberikan kompensasi terbaik adalah produktivitasnya, bukan gelarnya semata.
Lantas bagaimana nasib si "memble" ? Karyawan yang "memble" wajib diberi punishment. Hal ini bisa berwujud pengurangan fasilitas kompensasi gajinya (baik secara financial maupun non financial). Agar memberikan efek jera pada karyawan lain, ada baiknya antara si "memble" dan si "kece" yang produktif di umumkan tiap periode tertentu. Tujuannya sangat jelas, si "memble" akan malu dengan prestasi kerjanya yang buruk, dan si "kece" yang produktif bisa sebagai raw model bagi karyawan lain. Jadi, semakin banyak karyawan yang menjadi "kece", pertanda semakin berkibar bisnis apotek yang dijalankan. Masih nggak berani ngasih gaji tinggi buat karyawan yang berprestasi ?
Lantas bagaimana cara meracik gaji agar terlihat manis ? Sebenarnya, kompensasi gaji dapat dibentuk melalui 2 elemen berikut :
1. Finansial (transaksional)
2. Non Finansial (relasional)
I. Kompensasi gaji finansial terbagi menjadi 2 bagian, yaitu :
a. Kompensasi yang didasarkan atas kinerja, misal : Gaji Pokok, Bonus.
b. Kompensasi yang tidak didasarkan atas kinerja, misal : Hak cuti karyawan.
II. Kompensasi gaji non finansial, terdiri atas 4 bagian, yaitu :
a. Pengakuan dan status, misal : strata sarjana akan mendapatkan gaji yang berbeda dengan strata diploma.
b. Keamanan kekaryawanan, misal : karyawan kontrak dinilai kurang aman dibanding karyawan tetap
c. Tantangan pekerjaan, misal : bekerja di bisnis apotek baru memiliki nilai yang lebih menantang
d. Kesempatan belajar, misal : adanya kesempatan training eksternal bagi yang berprestasi.
Nah...bagi pebisnis apotek, sebenarnya dalam membentuk struktur gaji bisa memainkan 2 eleman inti diatas. Racikan kompensasi gaji bisa berupa : gaji pokok standar, namun bonus besar dengan tantangan pekerjaan yang tidak mudah; gaji pokok besar, tiada bonus namun ada kesempatan belajar berupa training eksternal; gaji pokok besar, bonus besar, tantangan pekerjaan tidak mudah, dan keamanan kekaryawanan perlu perjuangan untuk menuju status karyawan tetap. Untuk menentukan formula mana yang terbaik, hal itu sebenarnya tergantung dari tujuan bisnis apotek yang dibangun.
Komponen kompensasi gaji diatas (entah gaya apapun yang dipilih), tujuannya hanya satu : produktivitas karyawan. Percuma dong...bayar karyawan mahal - mahal (walau gelar sederet kaya lokomotif !) kalau ternyata tidak produktif, alias "memble". Sebaiknya, bagi yang berprestasi layak mendapat kompensasi yang tinggi. Kenapa ? Karena karyawan yang berprestasi telah jelas - jelas memperlihatkan karya nyata dalam memajukan bisnis apotek. Hal ini patut dijadikan investasi, perlu dipertahankan jangan sampai dibajak oleh kompetitor. Salah satu alat untuk mempertahankan karyawan yang seperti ini adalah memberikan kompensasi berlebih dibanding karyawan lainnya. Bukankah ia adalah aset dalam bisnis apotek yang akan menjaga eksistensi bisnis tersebut agar tetap tumbuh ? Ingat, bahwa yang diberikan kompensasi terbaik adalah produktivitasnya, bukan gelarnya semata.
Lantas bagaimana nasib si "memble" ? Karyawan yang "memble" wajib diberi punishment. Hal ini bisa berwujud pengurangan fasilitas kompensasi gajinya (baik secara financial maupun non financial). Agar memberikan efek jera pada karyawan lain, ada baiknya antara si "memble" dan si "kece" yang produktif di umumkan tiap periode tertentu. Tujuannya sangat jelas, si "memble" akan malu dengan prestasi kerjanya yang buruk, dan si "kece" yang produktif bisa sebagai raw model bagi karyawan lain. Jadi, semakin banyak karyawan yang menjadi "kece", pertanda semakin berkibar bisnis apotek yang dijalankan. Masih nggak berani ngasih gaji tinggi buat karyawan yang berprestasi ?
Senin, 01 November 2010
POTENSI NAMA DIBALIK SUKSES BISNIS APOTEK
"What's in a name ?" Itulah lontaran tersohor di planet bumi yang diucapkan oleh William Shakespeare. Yah...beliau menanyakan : "Apalah arti sebuah nama ?". Buat sebagian orang, nama bisa berarti do'a (so klo manggil orang pake' nama yg baik dong, jangan asal ngjeplak : Ijaaaaaah...Jahhh...!!"). Nama bagi sebuah bisnis, ibarat ruh. Dia adalah brand yang dilekatkan, sepanjang bisnis tersebut berjalan, tanpa terkecuali bisnis apotek. Berkembang atau tidaknya bisnis apotek, tergantung pada kuat atau tidaknya nama yang dilekatkan padanya. Sebuah nama yang kuat, akan mendorong bisnis apotek tersebut bergerak lebih cepat dalam memenetrasi pasar. Berbekal nama yang kuat, ia akan tampil mendominasi dan bahkan memberikan keuntungan yang berlipat - lipat, bahkan bisa melebihi asset fisiknya.
Untuk membuat nama apotek menjadi "top markotop" dan "good marsogood" (hehehe...), maka nama pada bisnis apotek tersebut harus dikelola dan dikembangkan dengan baik. Ibarat tanaman, perlu disiram dan dipupuk serta dijaga agar tumbuh besar menjadi pohon. Membangun dan mengelola nama pada bisnis apotek agar menjadi besar dan "branding" memang tidak semudah mengetik tulisan ini (bener loh, swear deh...!). Telah banyak nama apotek terjungkal sebelum menjadi besar, atau bahkan perlu tertatih - tatih dahulu hingga 6 - 10 tahunan untuk menjadi sukses. Memang harus diakui hal ini tidak mudah, apalagi ditengah kemajuan zaman dan lingkungan bisnis apotek juga berubah secepat kilat akibat kemajuan teknologi saat ini. Sebenarnya, tantangan terberatnya adalah begitu cepatnya perubahan perilaku pasien / customer / pembeli akibat banyaknya pilihan media komunikasi sebagai dampak kemajuan informasi di era sekarang ini. Kondisi ini bukan hambatan, bila pebisnis apotek cerdas dalam menyikapi dan menangkap tren kemajuan komuniaksi dan teknologi ini. Pebisnis apotek bisa meracik kemajuan informasi dan teknologi ini sebagai alat untuk mendorong lebih cepat nama apotek agar lebih "branding", lebih hidup dan lebih membumi pada level market. Ada 3 posisi kunci yang bisa difokuskan agar nama sebuah bisnis apotek bisa menjadi kuat & sukses, yakni :
1. Awareness
Untuk memiliki nama yang kuat, bisnis apotek yang dijalankan harus terkenal, menjadi lazim, & menjadi sebuah trend setter pada sebuah market. Bagaimana cara memulai membentuk awareness ini ? Pengalaman menyebutkan bahwa dengan semakin intennya berhubungan dengan customer maka akan semakin kuat awareness-nya. Hal itu bisa dimaksimalkan melalui social networking, customer service, digital media, interactive marketing (bukan iklan loh !), tangible experience. Sebuah apotek "bercat hijau" telah melakukan ini pada momen bakti sosial peduli merapi (social networking, customer service, tangible experience di racik secara ciamik disana..wah..wah..wah !)
2.Market Share
Penguasaan pasar harus menjadi prioritas penting, setelah awareness. Fokus pada pelanggan - pelanggan kunci terlebih dahulu. Jangan tamak untuk segera menguasai semua level market. Sesuaikan dengan kondisi kekuatan binis apotek yang dijalankan. Sebuah contoh yang menarik dan sederhana dilakukan sebuah apotek di Yogyakarta, dengan cara fokus membidik kalangan geriatri melalui sebuah pertemuan rutin warga.
3.Loyalty
Setelah sukses merengkuh market share yang ada, nah...selanjutnya baru dibikin berbagai layanan dan program agar, minimal pelanggan - pelanggan kunci tersebut tidak pernah berpaling hati (apalagi sampai berpaling body...hehe), terhadap layanan apotek yang tersedia. Melalui layanan yang customize, fokus pada pelanggan yang sudah terbentuk inilah sebenarnya telah dimulai sebuah fase untuk membentuk format loyalty. Secara sederhana, hal ini akan ditandai adanya buying repeat. Dalam membentuk loyalty, sebaiknya dimulai dari customer mindset. Ini akan meminimalisir rejected atas layanan yang ditawarkan dan hal itu bisa dimulai dari pelanggan - pelanggan kunci yang telah terbentuk.
Fokus pada 3 posisi kunci tersebut, apabila dilakukan secara berulang - ulang dalam bisnis apotek yang dijalankan, niscaya lambat laun akan menuai segarnya potensi nama dibalik suksesnya bisnis apotek.
Untuk membuat nama apotek menjadi "top markotop" dan "good marsogood" (hehehe...), maka nama pada bisnis apotek tersebut harus dikelola dan dikembangkan dengan baik. Ibarat tanaman, perlu disiram dan dipupuk serta dijaga agar tumbuh besar menjadi pohon. Membangun dan mengelola nama pada bisnis apotek agar menjadi besar dan "branding" memang tidak semudah mengetik tulisan ini (bener loh, swear deh...!). Telah banyak nama apotek terjungkal sebelum menjadi besar, atau bahkan perlu tertatih - tatih dahulu hingga 6 - 10 tahunan untuk menjadi sukses. Memang harus diakui hal ini tidak mudah, apalagi ditengah kemajuan zaman dan lingkungan bisnis apotek juga berubah secepat kilat akibat kemajuan teknologi saat ini. Sebenarnya, tantangan terberatnya adalah begitu cepatnya perubahan perilaku pasien / customer / pembeli akibat banyaknya pilihan media komunikasi sebagai dampak kemajuan informasi di era sekarang ini. Kondisi ini bukan hambatan, bila pebisnis apotek cerdas dalam menyikapi dan menangkap tren kemajuan komuniaksi dan teknologi ini. Pebisnis apotek bisa meracik kemajuan informasi dan teknologi ini sebagai alat untuk mendorong lebih cepat nama apotek agar lebih "branding", lebih hidup dan lebih membumi pada level market. Ada 3 posisi kunci yang bisa difokuskan agar nama sebuah bisnis apotek bisa menjadi kuat & sukses, yakni :
1. Awareness
Untuk memiliki nama yang kuat, bisnis apotek yang dijalankan harus terkenal, menjadi lazim, & menjadi sebuah trend setter pada sebuah market. Bagaimana cara memulai membentuk awareness ini ? Pengalaman menyebutkan bahwa dengan semakin intennya berhubungan dengan customer maka akan semakin kuat awareness-nya. Hal itu bisa dimaksimalkan melalui social networking, customer service, digital media, interactive marketing (bukan iklan loh !), tangible experience. Sebuah apotek "bercat hijau" telah melakukan ini pada momen bakti sosial peduli merapi (social networking, customer service, tangible experience di racik secara ciamik disana..wah..wah..wah !)
2.Market Share
Penguasaan pasar harus menjadi prioritas penting, setelah awareness. Fokus pada pelanggan - pelanggan kunci terlebih dahulu. Jangan tamak untuk segera menguasai semua level market. Sesuaikan dengan kondisi kekuatan binis apotek yang dijalankan. Sebuah contoh yang menarik dan sederhana dilakukan sebuah apotek di Yogyakarta, dengan cara fokus membidik kalangan geriatri melalui sebuah pertemuan rutin warga.
3.Loyalty
Setelah sukses merengkuh market share yang ada, nah...selanjutnya baru dibikin berbagai layanan dan program agar, minimal pelanggan - pelanggan kunci tersebut tidak pernah berpaling hati (apalagi sampai berpaling body...hehe), terhadap layanan apotek yang tersedia. Melalui layanan yang customize, fokus pada pelanggan yang sudah terbentuk inilah sebenarnya telah dimulai sebuah fase untuk membentuk format loyalty. Secara sederhana, hal ini akan ditandai adanya buying repeat. Dalam membentuk loyalty, sebaiknya dimulai dari customer mindset. Ini akan meminimalisir rejected atas layanan yang ditawarkan dan hal itu bisa dimulai dari pelanggan - pelanggan kunci yang telah terbentuk.
Fokus pada 3 posisi kunci tersebut, apabila dilakukan secara berulang - ulang dalam bisnis apotek yang dijalankan, niscaya lambat laun akan menuai segarnya potensi nama dibalik suksesnya bisnis apotek.
Minggu, 31 Oktober 2010
ANTARA MASKER DAN GUNUNG MERAPI
Yogyakarta tidak seperti biasanya. Pagi menjelang siang hari ini suasana Yogyakarta mirip di Beijing kalau pas musim dingin. Semua nampak putih, bedanya jika di Beijing putih karena tertutup salju, namun di Yogyakarta putih karena tertutup oleh debu Merapi yang diterbangkan angin. Memasuki Grha Sabha Pramana di Universitas Gadjah Mada, gedung itu nampak putih berdiri nan megah, layaknya Forbidden City di Beijing. Terlihat anggun (namun menyesakkan nafas). Semua orang mulai dari pejalan kaki, pedagang kaki lima, polisi, pengendara motor mengenakan masker. Sungguh, pemandangan yang unik sekali. Sesaat kemudian baru menyadari bahwa memang harus mengenakan masker, karena putih yang menyelimuti Yogyakarta bukan salju melainkan debu vulkanis dan ini berbahaya bagi kesehatan. Langsung saja tancap gas mencari apotek dengan satu tujuan, membeli masker.
Sebuah apotek yang terletak di jalan Kaliurang disinggahi, sebelum masuk lebih dalam ke apotek tersebut, pas di pintu utama tertulis : "MAAF, MASKER HABIS !". Sejurus kemudian melaju lagi ke arah Ringroad, tepat di perempatan ada sebuah Apotek megah, dan langsung bertanya pada petugas Apotek, lagi - lagi dijawab bahwa masker habis. Saat ini masker memang menjadi barang langka di kota Yogyakarta. Daripada susah mencari masker, akhirnya diputuskanlah untuk mampir ke daerah Pogung (barat kampus UGM) bekas kost lama sewaktu kuliah dulu. Sebelum masuk ke dalam sebuah gang, ada seorang penjahit yang masih buka praktek di situ dan sudah tak asing dengan sosok tersebut. Sesaat mata memandang, ada selembar kain sisa jahitan yang panjang dan lebarnya mirip slayer di samping kiri mesin jahitannya. Aha...selintas terpikir ide cemerlang. Bukankah saat ini masyarakat Yogyakarta sedang butuh masker ? Bukankah saat ini, di banyak gerai apotek, masker sedang OOS (Ora Ono Stok...hehehehe, eh yang benar Out Of Stock). Bukankah yang dibutuhkan sebenarnya bukan masker, melainkan penutup mulut & hidung ? Bukankah penutup mulut dan hidung bisa juga menggunakan slayer ? Bukankah kain sisa jahitan yang mirip slayer bisa dijadikan sebagai pengganti masker, minimal untuk kondisi berdebu saat ini ?
Out of stock, kondisi ini terkadang terjadi pada sebuah bisnis apotek. Bila hal ini terjadi, bukan berarti hanya diam pasif menunggu stock bisa ready kembali. Bila hanya pasif saja, menunggu dan menunggu...sebenarnya bisnis apotek akan mengalami kerugian. Rugi dalam hal momen, dan rugi dalam hal waktu. Kenapa di saat semua gerai bisnis apotek menunggu stock masker yang belum tentu kapan datangnya, tidak mencoba kreatif sedikit mencari alternative pengganti masker ? Segera pesan saja ke tukang jahit, agar kain sisa jahitan disulap menjadi "slayer jadi - jadian" dan ditawarkan sebagai pengganti masker ! Bukankah customer sedang sangat, amat butuh dengan cepat...Kreativitas kecil ini mungkin akan sangat membantu masyarakat Yogyakarta untuk memenuhi kebutuhan masker yang sangat mendesak. Dan, bisnis apotek anda juga akan terhindar dari OOS yang belum tahu kapan stock masker di PBF akan available. Ternyata, hanya dengan kreativitas kecil akan tercipta peluang antara debu gunung merapi dan OOS masker.
Sebuah apotek yang terletak di jalan Kaliurang disinggahi, sebelum masuk lebih dalam ke apotek tersebut, pas di pintu utama tertulis : "MAAF, MASKER HABIS !". Sejurus kemudian melaju lagi ke arah Ringroad, tepat di perempatan ada sebuah Apotek megah, dan langsung bertanya pada petugas Apotek, lagi - lagi dijawab bahwa masker habis. Saat ini masker memang menjadi barang langka di kota Yogyakarta. Daripada susah mencari masker, akhirnya diputuskanlah untuk mampir ke daerah Pogung (barat kampus UGM) bekas kost lama sewaktu kuliah dulu. Sebelum masuk ke dalam sebuah gang, ada seorang penjahit yang masih buka praktek di situ dan sudah tak asing dengan sosok tersebut. Sesaat mata memandang, ada selembar kain sisa jahitan yang panjang dan lebarnya mirip slayer di samping kiri mesin jahitannya. Aha...selintas terpikir ide cemerlang. Bukankah saat ini masyarakat Yogyakarta sedang butuh masker ? Bukankah saat ini, di banyak gerai apotek, masker sedang OOS (Ora Ono Stok...hehehehe, eh yang benar Out Of Stock). Bukankah yang dibutuhkan sebenarnya bukan masker, melainkan penutup mulut & hidung ? Bukankah penutup mulut dan hidung bisa juga menggunakan slayer ? Bukankah kain sisa jahitan yang mirip slayer bisa dijadikan sebagai pengganti masker, minimal untuk kondisi berdebu saat ini ?
Out of stock, kondisi ini terkadang terjadi pada sebuah bisnis apotek. Bila hal ini terjadi, bukan berarti hanya diam pasif menunggu stock bisa ready kembali. Bila hanya pasif saja, menunggu dan menunggu...sebenarnya bisnis apotek akan mengalami kerugian. Rugi dalam hal momen, dan rugi dalam hal waktu. Kenapa di saat semua gerai bisnis apotek menunggu stock masker yang belum tentu kapan datangnya, tidak mencoba kreatif sedikit mencari alternative pengganti masker ? Segera pesan saja ke tukang jahit, agar kain sisa jahitan disulap menjadi "slayer jadi - jadian" dan ditawarkan sebagai pengganti masker ! Bukankah customer sedang sangat, amat butuh dengan cepat...Kreativitas kecil ini mungkin akan sangat membantu masyarakat Yogyakarta untuk memenuhi kebutuhan masker yang sangat mendesak. Dan, bisnis apotek anda juga akan terhindar dari OOS yang belum tahu kapan stock masker di PBF akan available. Ternyata, hanya dengan kreativitas kecil akan tercipta peluang antara debu gunung merapi dan OOS masker.
Langganan:
Postingan (Atom)





