Minggu, 02 Januari 2011

MENERAWANG BISNIS APOTEK INDONESIA DI 2011


Telur emas pertumbuhan ekonomi nampaknya sedang berkiblat ke Asia. China, India dan Korea sebagai motor penggeraknya, mengakibatkan Asia saat ini tak boleh dipandang sebelah mata. China dengan nilai pertumbuhan ekonominya sebesar 10,5 % dan India 9,7 % di tahun 2010 merupakan rekor yang patut diapresiasi dibanding dengan 2 negara adidaya lainnya, Amerika dan Jepang yang hanya memiliki pertumbuhan ekonomi sebesar 2 %.

BAGAIMANA INDONESIA ?

Indonesia dengan jumlah penduduk sekitar 230 juta dan menempati posisi no.4 terbanyak dunia memang sebuah pangsa pasar yang prospektif bagi para pebisnis.  Data Komite Ekonomi Nasional menyebutkan, dengan nilai pertumbuhan ekonomi sebesar 6 % di tahun 2010 maka akan terjadi akselerasi pada golongan strata ekonomi masyarakat Indonesia. Adanya cadangan devisa negara Indonesia sebesar 86,55 Miliar USD di tahun 2010, diharapkan akan mendorong lebih banyak lagi perbaikan infrastruktur dan kesejahteraan yang dikenyam masyarakat Indonesia di 2011. Nilai pertumbuhan ekonomi sebesar 6 % tersebut telah mampu menggenjot terciptanya lapangan pekerjaan sebesar 2,1 juta penduduk. Tidak hanya itu saja, GDP Indonesia di tahun 2010 sudah mencapai 2962 USD dan diperkirakan di tahun 2011 ini akan melewati angka 3000 USD. Melalui data ini, maka dapat diambil sebuah kesimpulan yang sederhana bahwa akan banyak golongan strata ekonomi menengah baru di Indonesia. Hal ini tentu buah dari meningkatnya pendapatan masyarakat Indonesia. Pertumbuhan strata ekonomi golongan menengah ini tentu akan mengkreasi adanya permintaan – permintaan di segala bidang. Ditambah lagi, kondisi ini akan meningkatkan kesejahteraan strata ekonomi bawah juga (walaupun tentu tidak semuanya !).

DAMPAKNYA BAGI KESEJAHTERAAN KESEHATAN MASYARAKAT ?

Beruntunglah nilai inflasi kesehatan Indonesia sampai dengan November 2010 hanya 2,03. Nilai terendah dibanding dengan komoditi lainnya, semisal : komoditi sandang, bahan makanan, makanan jadi, dan perumahan. Nilai inflasi selalu identik dengan kenaikan harga barang atau jasa yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat. Inflasi juga identik dengan menurunnya nilai mata uang suatu negara. Melihat data secara YOY (Year On Year), sejak tahun 2008 nilai inflasi di komoditi kesehatan cenderung menurun dan tahun 2010 merupakan titik terendah semenjak 2006. Hal ini berarti akan berimbas pada bertumbuhnya kemampuan masyarakat Indonesia untuk mengakses permintaan di bidang kesehatan. Terlebih pada golongan msyarakat dengan strata ekonomi menengah, tentu akan berbondong – bondong untuk memperbaiki kebutuhan kesehatannya.

BAGAIMANA BISNIS OBAT DI INDONESIA ?

Disebutkan bahwa penjualan obat di Indonesia mencapai angka 38T selama 2010 tumbuh sebesar 12 % dibanding 2009, dengan komposisi 65 % merupakan hasil kontribusi dari obat ethical dan 35 % merupakan kontribusi dari obat OTC (Over The Counter / Obat Bebas). Nilai penjualan obat diprediksi akan naik di tahun 2011 sebesar 13 %. Tingginya persentase penjualan obat ethical ini tentu lebih banyak terserap di sektor rumah sakit, yang sampai tahun 2010 jumlahnya mencapai 1.523. Pada rumah sakit pemerintah, penyerapan obat generik di tahun 2010 mencapai 57,8 % dan di puskesmas lebih dari 96 %. Sedangkan data jumlah tenaga kesehatan yang aktif sampai 2010, dokter sebanyak 3020 dan bidan sebanyak 10.175. Melihat kondisi ini, penjualan obat generik untuk fase 2011 tentu akan lebih bagus prospeknya. Hal ini dapat dipahami bahwa harga obat generik masih pada harga yang konstan, dan hanya sedikit yang mengalami penurunan harga serta beberapa obat generik lainnya malah mengalami kenaikan harga. Adanya peningkatan jumlah rumah sakit dan klinik juga merupakan kontribusi terhadap kenaikan penjualan obat ethical di periode 2010. Belum lagi adanya peningkatan usia lanjut di Indonesia, serta bencana alam yang nyaris berlangsung selama tahun 2010 juga merupakan kontributor terhadap kenaikan penjualan bisnis obat di Indonesia. Di tahun 2011, tentu bisnis penjualan obat akan lebih bergairah lagi karena didukung adanya isu bahwa beberapa obat paten akan habis masa patennya.
Kue pertumbuhan bisnis obat OTC sebenarnya lebih dipicu oleh adanya saluran distribusi yang semakin mendekati ring 3 (area pinggiran), sehingga menimbulkan pertumbuhan jumlah apotek yang merangsek ke area tersebut. Pertumbuhan modern market juga menyumbang peningkatan penjualan OTC, dimana biasanya tak jarang di modern market telah tersedia gerai farmasi yang lebih banyak menampilkan obat – obat OTC maupun suplemen.

BAGAIMANA TERAWANGAN BISNIS APOTEK INDONESIA DI 2011 ?

Jumlah apotek di seluruh Indonesia, menurut data terakhir per awal tahun 2010 sebanyak 12.774 buah. Dari data tersebut, penyebaran terpadat ada di Jawa Barat sebesar 18 % dan terenggang ada di Maluku Utara 0,3 %. Dua kota dengan tingkat penyebaran moderat adalah Riau dan Yogyakarta dengan nilai masing – masing 3 %. Market share yang ada sangat jelas, bahwa total penduduk Indonesia 230 juta jiwa. Dari angka ini, secara berurutan penduduk terpadat ada di Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah. Bila dibuat sebuah nilai rerata, 1 apotek di Jawa Barat akan melayani sekitar 15.420 orang, 1 apotek di Jawa Timur akan melayani sekitar 21.931 orang dan 1 apotek di Jawa Tengah akan melayani 20.109 orang. Namun data ini tentu harus dipertajam lagi, mengingat adanya penyebaran penduduk yang tidak sama antar satu kota dengan kota lainnya. Adanya bisnis apotek, tentu harus ditopang PBF (Pedagang Besar Farmasi) sebagai supplier-nya. Di Jawa Barat sendiri total PBF resmi yang tercatat di data GP Farmasi berjumlah 262 perusahaan, Jawa Timur 250 perusahaan, Jawa Tengah 272 perusahaan, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) 55 perusahaan, dan Riau 69 perusahaan. Mengingat sistem coverage area (jangkauan) sebuah PBF biasanya lintas kabupaten / kotamadya, maka untuk daerah Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah tentu memiliki ragam pilihan untuk menyelaraskan suplai obat sesuai dengan kebutuhan apotek, baik itu terkait harga, diskon, pengiriman, jadwal kunjungan salesman, dll. Sedangkan untuk DIY, walaupun hanya ada 55 PBF, namun realita di lapangan ada beberapa PBF dari luar DIY yang melakukan crossing sales ke area ini. Dengan demikian, secara keseluruhan suplai untuk apotek di DIY juga tidak masalah. Untuk Riau, hanya perlu penyesuaian waktu untuk masalah suplai, karena area di pinggiran (ring 3) biasanya akan menggunakan sistem bi-weekly maupun monthly untuk pola suplai obat dari PBF. Dan tak jarang pola canvas masih sering digunakan.

KE MANA ARAH BISNIS APOTEK INDONESIA DI 2011 ?

EKSTERNAL
Seiring adanya perbaikan daya beli masyarakat dan tumbuhnya ekonomi pada strata menengah akan berimbas pada terciptanya demand baru di bisnis kesehatan, termasuk bisnis apotek. Pada kondisi yang demikian, akan ada pergeseran paradigma dari pelayanan medis (medical care) ke pemeliharaan kesehatan (health care), sehingga setiap upaya kesehatan, kedepannya akan lebih menonjolkan upaya pencegahan (preventive) dan peningkatan (promotive). Hal inipun sudah terhembus di tahun 2010, dengan membanjirnya produk – produk nutriceutical.
Masyarakat juga akan bertindak preventive melalui cek laboratorium terhadap marker – marker yang berpotensi terjadinya penyakit, semisal : kolesterol, gula darah, dll. Dengan demikian, adanya layanan ini tentu akan menambah eksis bisnis apotek di 2011.
Seiring meningkatnya usia lanjut dan pasien berpenyakit degeneratif di Indonesia memunculkan ide adanya home health care patient. Segmen ini juga merupakan potensi untuk memunculkan peningkatan upaya kesehatan (promotive). Dan bila melihat tren di 2010, masih jarang bisnis apotek yang menyentuh masalah ini.
Adanya jaminan kesehatan sampai 2010 dimana 56 % dari total penduduk Indonesia telah berpartisipasi di dalamnya, dengan komposisi 60 % merupakan JamKesMas, diikuti dengan JamKesDa, JamSosTek, Askes, Asuransi Swasta dan lainnya tentu perlu mendapatkan renungan tersendiri. Adanya tren ini tentu perlu dipikirkan agar celah – celah bisnis apotek masih bisa dimanfaatkan. Kerjasama dengan pihak asuransi, bila memang memiliki potensi layak untuk disusun strateginya.
Isu terkait obat generik juga layak untuk direnungkan. Adanya 96 % lebih institusi Puskesmas dan Puskesmas Pembantu (PusTu) yang menggunakan obat ini serta 57,8 % di rumah sakit pemerintah, maka patut ditinjau ulang bagaimanakah tingkat kesembuhan atau perbaikan pasien terhadap obat tersebut. Bagi bisnis apotek, adanya pharmaceutical record tentu akan sangat membantu dalam evaluasi ini. Hal ini dibutuhkan untuk memberikan second opinion dari segi kefarmasian kepada pasien, yang ujung – ujungnya untuk menciptakan kepercayaan pasien terhadap bisnis apotek.
Kompetisi di area ring 1 dan 2 (dalam kota dan pinggiran kota) yang sudah terlalu padat, akan memaksa bisnis apotek bergerak ke area ring 3 (daerah pinggiran). Atau bahkan arus bisnis apotek dengan modal besar dan sistem yang telah mapan, akan merangsek ke ring 2 yang mendekati / menjadi satu dengan bisnis modern market. Ini tentu mengikuti adanya pergeseran customer behaviour strata ekonomi kelas menengah-atas yang lebih banyak berbelanja di modern market daripada traditional market.

INTERNAL
Bisnis apotek akan dituntut tidak hanya mengedepankan sisi produk saja, baik terkait harga dan kelengkapannya. Lebih dari itu, pelayanan akan menjadi tuntutan yang mutlak bagi pasien. Kenyamanan, kecekatan dan peran konsultan obat sangat memberikan sentuhan yang nyata. Untuk memenuhi harapan ini, diperlukan tenaga yang tidak saja pandai, namun komunikatif, cerdas melihat peluang, drug & health adviser, cekatan dan memiliki kemampuan manajerial yang mumpuni. Apoteker sebagai tenaga ahli harus dipaksa tampil untuk memenuhi harapan ini. Saat ini, keberadaan si ahli obat ini masih langka jika tidak ingin dibilang tiada. Hal ini sebenarnya memunculkan peluang bagi bisnis apotek lain yang benar – benar di tangani oleh profesi yang memang benar ahli di bidang obat untuk bisa tampil bersentuhan dengan pasien. Sebuah data menyebutkan angka kehadiran apoteker di daerah ibukota di apotek komunitas : TIDAK ADA / TIDAK HADIR 95 %, HADIR (tapi meninggalkan apotek ketika pengamatan) 5 %. Di kota Medan, 62,5% HADIR 1 X/BULAN, 27,5% HADIR 2-4X/BULAN, 2,5% HADIR 5-10X/BULAN, dan 7,5% HADIR >10X/BULAN. Tuntutan maksimalisasinya layanan kefarmasian di bisnis apotek ini dipicu oleh banyaknya pasien yang semakin cerdas, perkembangan teknologi informasi akibat dominasi oleh strata ekonomi golongan menengah yang semakin bertumbuh di 2011.
Dalam hal pemanfaatan teknologi informasi untuk menjangkau pasien lebih luas, merebaknya jejaring sosial, akses internet yang telah masuk ke ring 2 dan 3 pantas untuk dimaksimalkan guna menjaring konsumen apotek lebih banyak lagi.
Terbinanya hubungan dengan berbagai tenaga kesehatan lain, semisal dokter, dokter gigi dan bidan tentu akan meningkatkan nilai bisnis apotek yang dijalankan. Hubungan yang baik dengan instansi kesehatan lain, semisal puskesmas, rumah sakit dan bahkan antar apotek juga akan mendukung kesuksesan bisnis apotek. Bahkan jika memungkinkan, joint event ke segmen masyarakat akan sangat menguntungkan berbagai pihak. Tahun 2011, tahun penuh tantangan dan peluang...

Selamat menyambut tahun baru 2011, hadapi tantangan gapai peluang...!

5 komentar:

  1. ijin nyalin dataya.....
    btw data di atas hasil survey lembaga ap trus kpn.
    mkasih sblumx.

    BalasHapus
  2. Dear Kaisar,

    Dipersilahkan menyalin, namun dengan syarat apabila bukan digunakan untuk keperluan pribadi maka harus disertakan sumbernya, yakni http://bisnisapotek.blogspot.com/ . Data tersebut merupakan rangkuman dari berbagai elemen yang kami ramu, sehingga menjadi narasi yg telah tersaji pada blog kami.
    Apabila ada hal yg perlu didiskusikan, kami terbuka untuk itu. Salam : Pharmapreneur !

    BalasHapus
  3. saya ada tugas perencanaan pendirian apotek, tp masih g ngerti POACnya, trima kasih

    BalasHapus
  4. umumnya untuk didaerah, berkembangnya usaha apotik bisa diprediksikan berapa tahun ??

    BalasHapus
  5. ijin nyalin data untuk skripsi boleh kang...

    BalasHapus